Senin, 01 Desember 2008

HIV-AIDS DITEMPAT KERJA (2)

berdoalah sebelum anda mulai bekerja.

Menurut data yang ada didunia saat ini ada + 42 juta orang yang terinfeksi HIV-AIDS, tidak ada satu benuapun didunia ini yang dapat menghindari untuk tidak ada virus HIV-AIDS nya. Dan yang paling memprihatinkan ternyata 25 juta diantaranya adalah pekerja.

Seperti yang kita ketahui bahwa kelompok yang paling rentan terinfeksi virus HIV adalah mereka yang berada di usia produktif(antara 15-49 tahun)yang berarti adalah usia kerja.

Kalau kita bicara tentang HIV-AIDS, yang terbayang oleh kita adalah FENOMENA GUNUNG ES. Dimana untuk Indonesia sampai Juni 2008, tercatat ada 18.963 kasus HIV-AIDS, data tersebut berasal dari seluruh propinsi di Indonesia, tidak ada satupun propinsi di Indonesia yang terbebas dari HIV-AIDS. Kalau kita melihat perkembangan HIV - AIDS di Indonesia, sangat luar biasa, dan Indonesia adalah negara ke 3 tercepat perkembangan HIV-AIDS di ASIA. Hal ini mungkin saja terjadi karena memang jumlah orang yang terdata adalah mereka yang memang sudah mengetahui status HIV nya. Padahal banyak orang Indonesia yang tidak tahu bahwa di dalam dirinya ada virus HIV. Kebanyakan mereka yang tercatat dan terdata itu adalah mereka yang sudah memasuki fase AIDS.

Ketidak tahuan, Stigma, dan diskriminasi menyebabkan informasi yang salah terhadap HIV-AIDS. Dahulu banyak orang mengatakan bahwa orang yang terinfeksi HIV-AIDS adalah mereka yang dalam hidupnya memiliki "resiko". Entah apakah ia seseorang "sex aktif" ataukah ia seorang "pecandu narkoba". Tapi kenyataannya saat ini sudah banyak istri-istri yang setia pada pasangan (ibu rumah tangga), anak-anak kecil yang dilahirkan dari seorang ibu yang HIV+.

Bayangkan kalau ada seorang Penjaja SeX (PSK) yang HIV+, berhubungan dengan laki-laki, kalau kita menghitung dia memiliki hari kerja 20 hari dalam sebulan, dengan rata-rata pelanggan sebanyak 3 orang sehari. kemungkinan akan terpapar HIV sebanyak 60 orang, lalu kalau dari 60 orang tersebut 30 diantaranya memiliki istri, kemungkinan si istripun dapat tertular (terpapar) virus HIV, begitu seterusnya ketiga diantara para istri tersebut kemudian hamil, lalu melahirkan anak. Kemungkinan anak-anak tersebut juga dapat terinfeksi virus tersebut.

Begitu juga seorang pecandu narkoba suntik, yang selalu dan lebih bahagia kalau mengkonsumi narkoba suntik bersama dengan teman-temannya (Sharing)kemungkinan untuk tertular virus tersebut juga sangat besar. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini penularan yang terbesar aalah dari Narkoba suntik.

Apa yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk hal seperti ini.
Hal yang menarik adalah "BANYAK ORANG YANG TIDAK TAHU STATUS HIV NYA, BAHWA HIV BISA MASUK KEMANA SAJA BISA DIRI KITA, KELUARGA KITA, LINGKUNGAN SEKITAR KITA, BAIK ITU LINGKUNGAN DI TEMPAT KERJA, MAUPUN LINGKUNGAN RUMAH"
Kalau ada keperdulian perusahaan terhadap program pencegahan HIV-AIDS maka perusahaan tersebut telah ikut menahan laju perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, dapat menciptakan suasana dan lingkungan kerja yang sehat, meningkatkan profit perusahaan, secara otomatis jika pekerja diperusahaan semua sehat, semangat bekerja akan selalu ada dan terus bertambah. dan tentu saja akan ada pengurangan biaya medical yang sangat besar, tingkat absensi berkurang, dlsbgnya.

Sangat mudah merancang program pencegahan di tempat kerja, tidak perlu dana yang banyak, lakukan pemberian informasi mengenai bahaya HIV-AIDS di perusahaan tidak harus berbentuk formal tapi informal akan lebih masuk dan dimengerti oleh pekerja. Sosialisasi dilakukan dapat bersama-sama dengan program lain diperusahaan, apakah di K3, atau penyuluhan di DKM, atau kegiatan-kegiatan perusahaan. Saya katakan tidak perlu dana yang besar karena banyak cara untuk mensiasatinya, yang penting ada kemauan baik personal maupun komitmen dari manajemen perusahaan.

Tidak ada komentar: